sumber gambar disini
sewaktu saya pulang kampung sebulan yang lalu,saat saya naik kereta api,di sebelah saya seorang ibu setengah baya,setelah itu dia mengajak ngobrol saya.karena sama satu daerah maka saat dia tanya, saya jawab dengan bahasa daerah,yang menjadi saya bingung,kenapa dia seolah-olah tak mau di ajak ngomong bahasa daerah,bahkan saat saya menjawab dengan bahasa daerah selalu bilang “apa?”seolah olah tidak paham apa yang saya omongkan,padahal bahasa indonesia dia sangat medok sekali.
sebenarnya tidak hanya ibu ini yang malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri,saat saya di kampung pun banyak remaja yang lebih suka menggunakan bahasa indonesia dari pada bahasa daerah.padahal bahasa indonesia lebih tepat di gunakan saat kita berbincang dengan orang lain yang tidak sedaerah.
fenomena akan malu nya mengunakan bahasa daerah sendiri,akan berdampak pada punahnya kosakata bahasa daerah tersebut.lama kelamaan orang akan asing dengan bahasa daerahnya sendiri.
pernahkah ada yang bertanya kepada anaknya,berapa nilai bahasa daerahnya di sekolah?selama ini yang saya alami sangat jarang,bahkan mungkin sedikit sekali,beda dengan bahasa inggris yang selalu di tanyakan dan di prioritaskan,sedangkan bahasa daerah selalu di kesampingkan.mungkin menganggap bahasa daerah sudah bisa dan biasa.padahal dalam bahasa jawa misalnya,ada bahasa yang halus (kromo inggil) dan bahasa ngoko yang biasa di pakai di sehari-hari.
menurut berita di portal web kompas,yang di tulis 11 agustus 2008.Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang.
kita tahu bahwa bahasa daerah adalah warisan yang sangat luhur,tak sepantasnya untuk merasa malu menggunakan bahasa daerah.bahasa di mana kita mengenal lingkungan.bahasa yang sangat indah penuh kerinduan,saat kita jauh dari daerah kita.
ngomong-ngomong bahasa daerah,saya jadi kangen celotehan anak-anak di kampung saya……








Ada beberapa probabilitas (kemungkinan) kenapa si Ibu memilih untuk menggunakan Bhs. Indonesia:
1. Mungkin si Ibu lebih nyaman berbicara Bhs. Indonesia dengan orang lain (dalam hal ini Mas Syaeful). Kita juga belum tahu secara pasti, si Ibu itu menggunakan Bhs. Daerahnya atau tidak ketika berbicara dengan orang yang ia kenal betul (Kerabat, teman, dll).
2. Mungkin si Ibu waspada dengan beberapa hal. Waspada itu bukan berarti Mas Syaeful ingin berbuat buruk ya. Bukan itu maksudnya :). lebih dikarenakana zaman sekarang kata “waspada” itu adalah prinsip yg harus dipegang teguh jika tidak ingin mengalami kriminal, apalagi si Ibu sedang berada di angkutan umum.
3. Mungkin juga si Ibu enggan berbicara Bhs. Daerah, bisa karena si Ibu itu malu berbicara Bhs. Daerah karena si Ibu menganggap ini bukanlah tempat (di angkutan umum) yg tepat untuk menggunakan Bhs. Daerah sebagai alat berkomunikasi, atau juga si Ibu lebih nyaman berbicara Bhs. Indonesia saja seperti poin pertama diatas.
Banyak kemungkinan yang terjadi, itu menurutku Mas Syaeful. Tetapi jika dilihat dari lain sisi, memang pengguna Bhs. Daerah sangat jarang sekali ditemukan, apalagi ruang lingkupnya sudah masuk di sebuah ibukota, atau kota besar, kota kecil, biasanya daerah yang masih memegang teguh penggunaan Bhs. Daerah sebagai alat komunikasi.
Aku pun tak merasa malu mengakui, jujur aku asli Klaten-Salatiga, orang tuaku berasal dari sana, karena sudah lama merantau ke Jakarta, maka aku tidak fasih berbicara Bhs. Jawa, namun aku mengerti setiap arti kata ketika orang-orang berbicara Bhs. Jawa. Tapi aku juga merasa peduli dengan kelestarian Bhs. Daerah, maka dari itu aku berusaha untuk menggunakan bahasa Jawa ketika berada di kampung halaman. begitulah cerita sekilas tentang penggunaan Bhs Daerah, khususnya aku sendiri.
Semoga Bhs. Daerah tidak akan pernah punah ya, karena masih ada banyak orang yg masih menjaga eksistensinya, seperti halnya Mas Syaeful sendiri.
Apik artikelne, mugi-mugi wong akeh menjaga Bhs. Daerahnya masing-masing. hehe.. belepotan Bhs. Daerahnya, tetapi tak apalah, yang terpenting ada usaha untuk bisa melestarikan Bhs. Daerah, bukan begitu Mas Syaeful ?.
Salam,
[Balas komentar]
Saya setuju sm artikelnya,Kadang kita akn terasa kaku dengan bahasa daerah jika lama berada diluar daerah kita. Penggunaan bahasa jg hrs pada tempatnya jgn sampe org merasa tidak nyaman krn tdk mengerti apa yg kt bicarakan. Krn itu bs menimbulkn fitnah krn di kira ngomongin org tsb. Mari kita sama-sama menjaga dan melestarikan bahasa daerah. Nice post
[Balas komentar]
sudah lama meninggalkan kampung halaman, dan baru sempat mudik sekitar 10x? tapi kami tetap bisa kok melestarikan bahasa daerah / bahasa Ibu dengan fasih
miris memang melihat fakta bahwa makin ke sini bahasa daerah semakin tidak diminati, apalagi ada yang bilang, repot amat belajar bahasa daerah, wong gak kepake jugak. mendingan belajar bahasa asing, bisa jadi bekal di masa depan.
nah, mendengar itu, kita bisa bilang apa? hehehe
mari kita mulai dengan diri sendiri, jika memang masih mau melestarikan bahasa daerah.
sudahkah anda berbahasa daerah hari ini? Saya sudah!
[Balas komentar]
Betul juga si. Di rumah pun sekarang ini kebanyak etnis Tionghoa pake bahasa Indonesia, jarang yang pake bahasa daerah. Paling kalo yang tua-tua ngumpul, baru mereka pake
Lagian, mungkin ada kecenderungan kalo etnis Tionghoa ngomong pake bahasa daerah, sepert bahasa Kek, dianggap gak mo berbaur dengan pribumi
Apalagi kalo pake bahasa Mandarin, xixixixi bisa beda lagi tu tuduhannya
[Balas komentar]