GULALI

Apel untuk rasya

2 Feb 2012 - 13:31 WIB

dok pribadi

dok pribadi

hujan rintik-rintik membasahi bumi,bunga yang tadinya kuncup layu mulai bermekaran kembali. rasya duduk di lantai di depan rumahnya sedang memainkan mobil-mobilan,dengan asyiknya mendorong-dorong mobil-mobilan itu berputar putar,lalu menabrakkan dengan mobil mobilan yang satunya,…”duaarr..duaaar” suara rasya seolah menirukan mobil yang bertabrakan.

suara ayahnya memanggil dari dalam rumah dengan keras, “rasyaaa…rasyaaa!!”,mungkin karena keasyikan,rasya mengacuhkan panggilan ayah nya.

ayahnya tergopoh-gopoh keluar dari rumah

“kamu itu gimana sih!,dari tadi di panggil-panggil gak jawab.sana beliin kecap!!” dengan nada tinggi ayah rasya membentak rasya.

“tapi lagi hujan ayah” jawab rasya pelan

“hujan..hujan apa!orang cuma gerimis aja,bukannya kamu juga sering main hujan-hujanan,trus kamu gak usah panggil-panggil aku ayah,aku bukan ayahmu tahu! sudah sana pergi” ayah tiri rasya menyodorkan uangnya dengan muka ketus.

rasya pun terdiam,tertunduk.sambil mengambil uang dari ayah tirinya dan meletakkan mainannya.berjalan kaki tanpa alas menuju warung sembako.

ayah kandung rasya telah bercerai dengan ibu kandung rasya,mereka berpisah karena sang ayah menikah lagi dengan wanita lain,dan meninggalkan rasya dan ibunya.sementara ibu rasya mulai membuka hubungan dengan lelaki lain, karena segudang cinta yang di berikan oleh lelaki itu kepada ibu rasya,sehingga ibu rasya mulai mau di nikahi oleh lelaki itu,dengan alasan mau menerima anaknya.sang lelaki itu pun menyanggupinya,dan akhirnya lah lelaki itu menjadi ayah tiri rasya.

rasya yang berumur 7 tahun,hanya bisa pasrah kalau sang ayah kandung tak pernah menemui nya.rasya sebenarnya pengin rasanya di peluk oleh seorang ayah,di ajak bermain bersama.

rasya tergopoh gopoh berlari kecil menghindari hujan,tangan satunya memegang kecap,sedang satunya menutupi kepalanya walaupun percuma karena tetap saja kepala rasya terkena tetesan air hujan,karena tangan yang mungil itu tak cukup untuk menutupi seluruh kepalanya.kakinya kotor terkena genangan air di jalan yang penuh air tanah coklat.

rasya menyodorkan kecap yang di beli di warung tetangga,memberikannya kepada ayah tirinya

“ini kecapnya yah”

“kamu ini gimana sih!saya tuh suruh kamu beli kecap yang botolan,kenapa kamu beli yang sachetan,tadi dengerin gak sih! trus kaki kamu kenapa pada kotor semua begitu,suruh beli kecap malah main kotor-kotor,dasar anak kurang ajar”

suaranya ayah tirinya begitu menyakitkan,tapi rasya diam saja dan menunduk.mata rasya sebenarnya sudah berkaca-kaca,tapi rasya mencoba menahan tetesan air matanya.

“kamu itu gimana!kalo ada orang nyuruh tuh di dengerin,jangan cuma bisa nya nangis! jadi anak kok susah di atur,sana nangis ajah kamu?” ocehan ayah tirinya benar-benar menyentak hati rasya.

rasya pun meninggalkan ayahnya,lalu pergi ke kamar mandi,mencuci kakinya yang kotor sambil menangis sesengukan,air matanya mengalir.

****

bulan memancarkan sinarnya, bulat penuh membuat keindahan malam semakin terang,angin berhembus semilir malam. jangkrik jangkrik memainkan perannya,berbunyi nyaring mengusir kodok-kodok yang berlalu lalang. di sudut rumah mungil,rasya bersama ibu dan ayah tirinya sedang menikmati makan malam.

“kamu makan yang banyak,biar badannya gemuk” ucap ayah tiri rasya,sambil mengambil nasi di sangku buat dirinya sendiri.

“iyah” jawab rasya singkat

ibu rasya yang sedang hamil hasil pernikahan ke 2 dengan ayah tiri rasya,membereskan piring dan mangkok bekas makan,kehamilannya yang menginjak umur delapan bulan,membuat perhatian kepada rasya berkurang.

“kamu gak belajar nak?” tutur ibu rasya dengan mengelus elus perutnya

“iya tuh sana belajar,jangan cuma bisanya main mulu!” ayah tiri rasya ikut menimpali

rasya cuma bisa menganguk senyum,pergi mengambil tas sekolahnya dan mengeluarkan buku-buku pelajaran.rasya bingung apa yang harus dia pelajari,sedangkan untuk mengeja huruf demi huruf saja masih sulit.ayah tiri dan ibunya pergi meninggalkan nya,masuk ke kamar mereka.rasya hanya bisa melamun,memandangi tulisan-tulisan yang belum rasya mengerti.

“rasya pengin belajar mah,tapi rasya gak tahu harus gimana?andai saja mama mau mengajari rasya…..??tapi sekarang mama sudah punya dede baru,rasya cemburu ma…?” suara dalam hati rasya dalam lamunan.

****

udara pagi begitu menyejukkan,mentari mulai mengambil perannya,memberikan sinar yang menerangi bumi.burung dara terbang dan bertengger di genteng,mencari sisa-sisa nasi aking yang telah kering.

“rasyaaa,bangun!!sudah siang.kamu gak sekolah!!” suara ayah tiri rasya memekakan telingga.

“iya ayah,tapi rasya sakit,ayah” badan rasya mengigil.

“sakit atau pura-pura sakit,kamu pura-pura sakit supaya gak masuk sekolah kan?supaya kamu bisa main-main?udah sana kamu mandi,lalu berangkat sekolah” ayah tiri rasya bersikukuh menyuruh rasya.

“iyah” rasya pun bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

rasya berjalan sendiri menuju sekolahnya,batuk-batuk menemaninya dalam perjalanan menuju sekolah,tiba-tiba lendir yang keluar dari mulutnya bercampur darah,rasya hanya mengelapnya dengan sapu tangannya pemberian ayah kandungnya dulu,rasya pun melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya,sesampai di sekolah,anak-anak sudah pada masuk keruangan kelasnya masing-masing,pelajaran sudah di mulai.

tookkk..tookk…toookkk pintu kelas di ketok rasya

“maaf bu rasya terlambat” tutur rasya pada bu guru

“kamu kenapa terlambat?ya sudah kamu duduk,besok jangan terlambat lagi yah”

“iyah bu” rasya pun melangkah menuju meja nya

“kok kamu telat” kata iwan teman sebangku rasya,dengan suara pelan

“iyah,tadinya aku gak mau masuk soalnya sakit,tapi ayahku menyuruhku berangkat” jawab rasya

“owwgggghhhh……” jawab iwan polos

bel sekolah berbunyi dua kali,artinya anak-anak kelas satu dan dua pulang terlebih dulu.rasya masih menopangkan kepalanya di meja dengan tangannya,kondisinya yang tidak sehat,membuat dia tidak semangat,melihat rasya yang tidak seperti biasanya,ibu guru yang selesai mengajar langsung menghampiri rasya.

“kamu kenapa rasya?”

“gak papa bu,cuma agak sedikit demam saja”

“ibu antar pulang yah?”

“gak usah bu,rasya bisa pulang sendiri kok”

“gak papa,nanti kalo kenapa kenapa gimana?yuuukk….ibu gandeng.”

rasya pun di antar ibu guru ke rumah rasya.membawanya menemui ayah dan ibunya.ayah tiri dan ibu rasya mengucapkan terima kasih kepada ibu guru yang telah mengantarkan rasya

“jadi ngerepotin ibu neh” ayah tiri rasya berbasa basi

“gak papa kok pa,bu, itu sudah jadi tanggung jawab saya saat di sekolah,saya pamit dulu yah pa,bu” ucap bu guru

“ogh iya,makasih banyak lho bu ” ayah tiri dan ibu rasya saling berebut bicara

rasya langsung merebahkan badannya di kasur,badan nya menggigil,suhu panas dan batuk batuk berdahak.ayah tiri dan ibunya menemui rasya.

“kamu kenapa nak?” tanya ibu rasya

“cuma demam ma”

“ohh..ya sudah,kamu istirahat saja ya,nanti mama bikinin bubur”

“ma, boleh gak rasya minta di beliin apel yang merah?” pinta rasya

“ayah,tuh sana beliin rasya apel merah?” ucap ibu rasya pada ayah tiri rasya

“ya nanti lah,masa sekarang,nanti kalo saya lagi senggang” jawab ayah tiri rasya

“nanti ya nak,ayah beliin apel merahnya,yang penting kamu makan bubur saja dulu,biar mama bikinin dulu ya” ibu rasya sambil mengelus rambut rasya.

****

sudah seminggu sakit rasya belum sembuh juga,batuk disertai dahak sering rasya alami,tapi orang tua rasya tidak pernah tahu kalo rasya sering batuk darah.tiba tiba rasya mengejang,ayah tiri dan ibunya panik,langsung saja di bawanya ke rumah sakit.

rasya di tempatkan di UGD,orang tua rasya panik,mondar mandir kesana kemari,dokter menemui kedua orang tua rasya.

“bapak ibu orang tua rasya?” tanya dokter

“betul dok”

“maaf pak,bu,anak ibu terkena paru-paru akut di sertai demam tinggi,jadi anak ibu mesti di rawat di sini,kondisinya sih belum pulih sekali,jadi kalo menemuinya,jangan bicara keras keras yah bu,pa”

“baik dok,boleh kami melihatnya dok”

“silahkan”

selang infus menempel di badan rasya,matanya terpejam dengan di sertai batuk-batuk kecil.

“nak,ibu disini” suara ibu rasya pelan

“ada ayah juga” ayah tiri rasya menimpali

mata rasya sedikit-sedikit mulai membuka,ibu dan ayah tirinya senyum pada rasya,rasya pun membalas senyuman.

“ma,rasya pengin apel merah?” ucap rasya sambil batuk-batuk

“ayah,kemarin kamu udah beliin apelnya belum?” tanya ibu rasya pada suaminya

“lupa ma,mama sih gak ngingetin?” jawab ayah tiri rasya

“ayah gimana sih? bukannya beli”

mereka berdua pun ribut,saling menyalahkan,sementara batuk rasya semakin menjadi,di sertai dengan darah yang keluar dari mulut.melihat itu, orang tua rasya menjadi panik.dokter pun di panggil dan bergegas menemui rasya.dokter segera menangani rasya.

ayah tiri rasya bergegas membeli apel merah keinginan rasya,mencari penjual buah.setelah mendapatkan buah apel merah,ayah tiri rasya langsung menuju rumah sakit kembali.menemui ibu rasya.

“mah,ini apelnya,ayah beli yang bagus,merah dan kata penjualnya gak keras ma,ini buat rasya,nanti kita kasihkan kalo udah siuman ya ma”

“yahhh..rasya udah gak butuh apel lagi yah,rasya udah tenang yah” air mata ibu rasya mengalir deras,memeluk ayah tiri rasya.

mereka berdua menangis dalam kesedihan,sementara buah apel yang di pegang berjatuh,mengelinding jauh ke lantai.

seorang anak kecil memungut buah apel yang berserakan itu dan memberikannya pada ayah tiri dan ibu rasya.

“om,tante ini apelnya tadi jatuh,om dan tante kok nangis” anak kecil itu memberikan apelnya

“makasih yah nak,kamu namanya siapa nak”

“rasya tante”

tangis itu pecah tak terbendung.

sementara di atas pusara rasya terdapat buah apel merah yang masih segar.

note : cerpen ini di dedikasikan untuk seorang ayah tiri yang kurang menyayangi anak tirinya,walau anak itu bukan anak kandungmu,tapi berikanlah kasih sayang seperti kamu menyayangi anak kandungmu.


salam

tsefull

baca juga cerpen lainnya :

istriku menyuruhku poligami

November Kelabu

Aku Benci Fiksi

Aku Teroris Koplax


TAGS   cerpen / fiksi / apel /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive