GULALI

stop menyisakan makanan

20 Oct 2016 - 10:55 WIB

petani padi

sumber gambar di sini

Pernahkah anda membuang sisa makanan? atau anda menyisakan makanan saat makan di restoran atau rumah makan? Tapi pernahkah anda berfikir bahwa proses penanaman padi hingga menjadi beras begitu panjang dan melelahkan, kenapa saya sebut melelahkan karena melihat sendiri bagaimana petani yang menam padi dengan perpeluh keringat dan hitamnya kulit demi menjaga padi.

Mertuaku adalah seorang petani, sebelum musim tanam tiba, mertua saya akan menjemur gabah kualitas bagus untuk di jadikan bibit, penjemuran di lakukan agar saat pembuatan bibit cepat tumbuh, saya kadang membantu menjemurkan gabah,dan ternyata kalo debu-debu gabah nempel di badan kita akan terasa gatal. Setelah penjemuran dilakukan sampai kering,bisa dua atau tiga hari tergantung cuaca. Maka dilakukan pembuatan bibit, saya kurang paham mengenai pembuatan bibitnya, katanya sih di tempatkan di tempat yang lembab, di bungkus, dan di beri apa lagi saya kurang paham,dan di biarkan sampai tumbuh bibit. Setelah proses pembibitan selesai barulah di tanamkan di sawah yang sudah di gemburkan tanahnya. Penanaman harus sesuai jarak agar saat dewasa nanti tidak saling berdekatan sekali. Belum lagi berikutnya dilakukan pemupukan dan penyemprotan pestisida agar saat besar tidak dimakan ulat ataupun serangga.

Setelah 4 bulan Saat padi sudah besar dan sebelum di panen, disinilah awal yang melelahkan. Bagaimana tidak, padi yang sudah ranum-ranumnya memaksa para segerombolan burung emprit untuk berburu makanan, tidak hanya satu dua ekor saja,tapi ribuan yang datang menyerbu, meskipun di pasang perangkap dan banyak yang mati tapi tidak pernah menyurutkan burung emprit yang lain untuk mundur,karena menganggap makanan yang  terhampar luas dan banyak siap santap. Maka tugas mertualah untuk menjaga padi-padi itu dari jarahan para burung emprit, dari pagi hingga sore nongkrong di sawah, mengusir burung-burung itu agar tidak datang lagi,tapi ya namanya burung selalu balik lagi, berhari –hari di sawah hanya untuk mengusir burung-burung kurang ajar sampai waktu panen tiba.

Saat panen tiba, para tetangga membantu, merontokkan gabah dari pohonnya agar gabah-gabah itu terkumpul, tenaga harus siap capek dari pagi hingga sore. Setelah gabah-gabah itu sudah terkumpul di karung-karung, lalu di  lakukan penjemuran, saat penjemuran jika tetangga tidak ada yang punya ayam yang di biarkan berkeliaran sih aman-aman saja, sedangkan jarangkan di pedesaaan yang tidak ada yang memelihara ayam sama sekali,pasti kan ada yang memelihara dan sering kali di biarkan begitu saja. Inilah yang membuat repot, karena selain di jemur gabah-gabahnya, juga mesti di jaga dari ayam-ayam yang berkeliaran, karena seringkali ayam-ayam itu memakan gabah-gabah yang di jemur. Penjemuran dilakukan berhari- hari sampai kering gabah tersebut, setelah itu dilakukan pembersihan,orang jawa bilang di tapeni. Biasanya dalam proses pembersihan gabah itu di bantu para tetangga juga , dan sebagai upahnya gabah beberapa kilo.  Setelah gabah itu bersih maka barulah bisa di masukkan ke karung-karung dan bisa di lakukan penyelipan  (yaitu proses penggilingan gabah hingga menjadi beras). Begitu panjang dan melelahkan bukan.

Nasi yang kalian makan adalah jerih payah petani padi yang begitu melelahkan dalam prosesnya. Jika kalian seringkali menyisakan makanan saat makan, apakah pernah berpikir di luar sana banyak yang membutuhkan makanan. Dan juga sisa makanan yang terbuang akan menjadi sampah busuk yang baunya tidak sedap. Bersyukurlah kita bisa makan tanpa harus menyisakan makanan. Ambillah porsi yang secukupnya, jangan berlebihan.Makanan yang kita makan akan lebih baik jika tidak ada sisa, sering menyisakan makanan adalah bentuk kemubadziran.


TAGS   makanan / sisa makanan / padi / gabah / petani /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive